oleh

Beginilah Spirit Kartini Yang (Tidak) Kebablasan

By Ini Diselenggarakan Oleh : -165 views

Setiap tanggal 21 April, mulai dari kampung hingga tengah perkotaan di seluruh tanah air disibukkan dengan peringatan kelahiran Raden Ajeng (RA) Kartini. Meskipun kelahirannya sudah lebih dari satu abad, tetapi pejuang wanita tersebut masih menyimpan magnit yang luar biasa.

            Apabila diperhatikan lebih mendalam, dibalik berbagai perayaan diatas, masih menyisakan sesuatu yang ganjil (kurang pas), yakni hilangnya spirit. Suka cita perayaan kelahiran R.A. Kartini hanyalah ditonjolkan melalui peragaan busana, seperti peragaan baju kebaya, konde dan juga ada yang menjadikannya sebagai tuntutan atas kesetaraan gender. Padahal keterpurukan yang dialami kaum Hawa sejak yang dialami R.A. Kartini sampai saat ini, masih menjadi musuh utama.

Spirit Kartini

             Kartini merupakan idola kaum perempuan tempo dulu, kini hingga yang akan datang. Ketokohannya sangat diakui, lantaran ide-idenya yang cukup brilian, inspiratif dan menggugah banyak orang. Hampir setiap gagasannya mampu memberikan spirit terhadap kaum perempuan. Maka tidak mengherankan apabila jiwa R.A. Kartini dijadikan moment kebangkitan dan pemberdayaan kodrat perempuan saat ini.

            Gencarnya kampanye emansipasi wanita harusnya tak lantas menyamarkan kodrat perempuan sebagai pendamping laki-laki. Mengacu dari salah satu surat yang ditulis RA. Kartini untuk Nyonya Abendon pada bulan  Agustus 1900 antara lain berisi : “Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya”, menunjukkan bahwa perjuangan kesetaraan Gender tidak lupa dengan kodratnya perempuan melahirkan anak, mendampingi pendidikan anak dan memastikan rumah tangganya tegak, mengingat perempuan sebagai tiang rumah tangga.

Para kaum perempuan yang hidup di era milenial seperti saat ini seyogyanya tidak memaknai emansipasi sampai kebablasan. Sangat banyak perempuan yang mengangkat emansipasi setinggi mungkin, namun lupa terhadap kodratnya sebagai anak, sebagai ibu, dan sebagai istri. Padahal harapan yang diperjuangkan RA. Kartini, agar mereka dapat berperan dan bertanggung jawab mendidik generasi penerus.

Kenyataan membuktikan bahwa saat ini perempuan belum sepenuhnya mampu bangkit, berdaya sesuai misi dan cita-cita R.A. Kartini. Atas nama agama, ekonomi, politik, sosial, gender, fisiologis, pendidikan dan sebagainya, perempuan jadi alamat korban penyimpangan sistem terstruktur. Apabila moment perayaan semacam ini direfleksikan kembali dengan menggali spirit R.A. Kartini yang benar, maka tidak akan ada lagi wanita yang jadi pelacur, masih bodoh, terbelakang (selalu diatur kaum laki-laki), wanita dianggap sebagai manusia kelas dua dan seterusnya.

Yang lebih memprihatinkan lagi, perempuan di era milenial ini justru menjadi korban kapitalistik. Dengan alasan ekonomi, mereka rela menjual harga diri, mengais materi ke negeri orang lain tanpa bekal kemampuan cukup sehingga jadi sasaran korban kekerasan para majikan, serta mudahnya wanita sebagai alat komersialisasi merek bintang iklan dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Apabila dikembalikan dengan semangat R.A. Kartini, semua kenyataan itu merupakan bentuk dehumanisasi atau menyalahi kodrat kewanitaan yang semestinya. Seharusnya cara untuk keluar dari keterpurukan tersebut, atau hitung-hitung untuk bisa bersaing dengan kaum laki-laki, bukan harus menjadi seperti itu. Melainkan harus berpendidikan luas, punya tanggungjawab diri sebagai wanita, dapat mengurus urusan rumahtangga dengan baik, mampu bersaing dan berjuang di pentas publik dan sebagainya

Jadi, dalam konteks kekinian harusnya yang perlu diteladani oleh generasi sekarang ialah semangat (spirit) pencerahannya yang substansial dan bukan pada aspek labelitas fisik yang berupa seremonial/ritual. Contoh-contoh brilian yang diusung Kartini ketika itu, khususnya bagi wanita, adalah mereka memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan sekolah, hak untuk melakukan aktifitas ke luar rumah, hak untuk memilih calon suami sesuai pilihannya. Namun di lain pihak, dia juga berusaha untuk menghindar dari pengaruh budaya Barat, walaupun dia juga mengakui bahwa kita harus perlu belajar dari Barat karena lebih maju dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Perempuan Milenial

Arti kehidupan sebenarnya seperti yang diangankan R.A. Kartini, bahwa perempuan kini harus lebih cerdas dan berpengetahuan, lebih berbudi pekerti luhur, beramal shaleh (baik) sesuai bidang kemampuannya, dan menghormati kodrat diri sendiri. Dengan begitulah secercah harapan R.A. Kartini tempo dulu dapat diwujudkan dan bisa mengangkat jiwa dan martabat bagi kaum perempuan masa depan.

Pengajar dan Bag. Akademik

Link blog :https://kinosuki.blogspot.com/2019/04/spirit-kartini-yang-tidak-kebablasan.html

BERHADIAH :

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 comment