oleh

Review Film Spartacus, Sang Pembawa Hujan dari Trakia

Beberapa waktu lalu saya sedang asik mencari hiburan di Netflix dan tanpa sengaja tertarik untuk mendownload film berjudul Spartacus. Film ini berdasarkan kisah nyata tentang kehidupan seorang gladiator yang tentunya tidak jauh dari pertarungan. Saya pribadi bukan merupakan pecinta film action yang sarat akan adegan anarkis, namun ringkasan dari film tersebut membuat saya tertarik untuk menjadikannya tontonan.

Baca juga : https://en.m.wikipedia.org/wiki/Spartacus

Rangkuman Cerita

Film ini terdiri dari 4 season, dan kali ini saya hanya akan membahas season pertama dari film tersebut berjudul “Blood and Sand”. Season ini terdiri dari 13 episode. Secara garis besar, season ini menceritakan bagaimana awal mulai Spartacus menjadi seorang gladiator hingga akhirnya melakukan pemberontakan untuk keluar dari tempat pelatihan gladiator itu. Melalui season ini kita juga dapat melihat perubahan Spartacus dari seorang petarung biasa hingga menjadi seorang gladiator tak terkalahkan.

Film ini mampu membuat saya tidak sabar untuk menonton satu demi satu episodenya. Menurut saya, daya tarik dari film ini tidak hanya pada adegan pertarungan di arena namun juga drama di dalamnya. Film ini tidak hanya berfokus pada Spartacus yang merindukan istrinya, namun juga tentang Quintus (tuan dari Spartacus) yang melakukan segala cara untuk naik ke kursi politik.

Saya sangat menyukai bagaimana istri Quintus, Lucretia berusaha menjilat para pelanggannya demi menaikkan suaminya ke ranah politik. Ada juga Ilithia, istri dari musuh bebuyutan Spartacus yang cantik namun juga lugu. Yang tidak kalah menarik adalah Crixus, saingan berat sekaligus musuh Spartacus, yang diam diam menjalin cinta dengan pelayan Lucretia.

Tidak hanya menampilkan adegan erotis yang cukup gamblang, film ini juga menampilkan adegan pembantaian di arena yang bersimbah darah.

Film ini juga menampilkan kisah cinta pelik. Tentang Spartacus yang selama ini merindukan istrinya, yang akhirnya dibunuh oleh Quintus. Tentang Crixus yang selama ini melayani Lucretia di ranjang, namun justru mencintai pelayannya bernama Naevia. Juga tentang Lucretia yang meski bermain api di belakang Quintus, namun tetap mendukung suaminya meski dalam situasi sulit.

Episode terakhir dari season ini merupakan puncaknya dimana Spartacus beserta seluruh gladiator membantai Quintus dan tamu tamunya.

Saya tidak melanjutkan menonton season selanjutnya. Seperti kebiasaan saya, saya selalu menonton bagian terakhir sebelum menonton keseluruhan film. Alasan saya sederhana, karena di akhir season Spartacus tewas dengan 2 tombak menembus tubuhnya.

Ep13:Kill Them All

Adegan Terbaik

Adegan terfavorit saya adalah ketika Spartacus berhasil mengalahkan 4 gladiator milik Solonius, saingan dari Quintus. Tidak kalah menarik adalah adegan ketika Spartacus dan Crixus bertarung bersama untuk mengalahkan Theokoles. Spartacus dijuluki Sangat Pembawa Hujan setelah kemenangannya melawan Theokoles diwarnai dengan hujan yang amat dirindukan oleh warga Capua.

Adegan kedua yang saya sukai adalah ketika Lucretia menjebak Ilithia untuk bercinta dengan Spartacus. Tidak hanya menampilkan adegan bercinta yang cukup intim, namun juga dimana Ilithia membunuh temannya, Lucenia.

Penokohan

Dari sisi penokohan, saya cukup menyukai sosok Crixus. Mantan juara gladiator yang gagah namun juga bisa luluh jika berhadapan dengan wanita yang dicintainya. Sejauh ini Crixus menampilkan sosok layaknya jawara sejati. Lain halnya dengan Spartacus, yang menurut saya terlalu idealis hingga seringkali tidak bisa menempatkan diri.

Ada juga Ashur, tangan kanan Quintus yang sangat licik dan setia terhadap Quintus. Quintus sendiri digambarkan berhasil bangkit dari masa sulitnya dengan kecemerlangan Spartacus di arena. Tentu saja Quintus bersikap baik terhadapnya semata mata demi keuntungannya.

Penutup

Melalui film ini kita dapat melihat bagaimana kehidupan seorang gladiator. Digambarkan bahwa gladiator bahkan tidak memiliki kuasa atas hidupnya sendiri. Mereka harus siap mati kapanpun di perintahkan oleh tuannya untuk terjun ke arena. Tidak sedikit dari mereka yang dipaksa menjadi gladiator dan dipisahkan dari keluarganya.

Dari sisi alur cerita saya memberikan skor 9 dari 10. Cerita ini sangat layak untuk diikuti dan cukup menegangkan melalui adegan bertarungnya. Dari sisi penokohan pun saya memberikan skor 9 dari 10, begitu juga dengan kemampuan akting mereka. Sejauh ini, Spartacus adalah film yang saya rekomendasikan bagi kalian yang ingin menonton film menegangkan sekaligus ringan.

Di akhir season, menjelang ajalnya Spartacus mengatakan bahwa tidak ada yang lebih terhormat dibanding mati sebagai pria yang bebas. Spartacus sedikit banyak mengajarkan kita untuk bersyukur atas hidup yang kita miliki. Selagi kita memiliki kebebasan untuk menentukan hidup kita, maka selama itulah kita patut untuk berbahagia.

 

Seberapa besar minat anda?
[Total: 1 Average: 4]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *